Sabtu, 03 Januari 2015
Bekal Istri
Senin, 19 Agustus 2013
salah satu kisah upaya memadamkan dakwah (2)
“Tidak ada lagi! (maksudnya tidak ada lagi sambungan sekarang)
Lalu kembalilah ‘Utbah kepada Quraisy yang menyuruhnya. Lalu mereka bertanya, “Apa khabarnya?”
‘Utbah menjawab: “Menurut perasaanku segala yang terguris di hati kalian semua telah aku sampaikan kepadanya.”
Mereka bertanya pula, “Apa jawabnya?”
‘Utbah menjawab: “Memang dia menjawab. Tetapi sungguh saya tidak mengerti apa arti jawaban itu. Yang aku ingat hanyalah bahwa dia mengancam, bahwa kalau kita tidak mau memperhatikan seruannya kita akan ditimpa oleh malapetaka sebagaimana yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud!”
“Heran!” kata mereka selanjutnya “Dia bercakap dalam bahasa Arab tetapi engkau mengatakan tidak faham apa yang dia katakan.”
Utbah menjawab: “Memang! Demi Allah! Aku tidak mengerti apa yang dia baca itu selain dari pekik yang keras akan menimpa, sebagaimana yang diderita Aad dan Tsamud.”
Dalam riwayat lain, bahwa setelah mendengar ayat-ayat pertama surah Fushshilat ‘Utbah terdiam tak dapat berbicara dan berpisah dengan Nabi dengan mengingatkan bagaimanapun mereka masih punya hubungan keluarga. Setelah itu dia pulang ke rumahnya dan tidak pergi menemui pemuka-pemuka Quraisy, beberapa lama dia mengurung diri di rumah.
Melihat itu Abu Jahal berkata kepada para pemuka Quraisy , “Hai sekalian Quraisy! Menurut pendapatku si ‘Utbah telah terpengaruh oleh Muhammad dan telah jadi pengikutnya, dan dia telah terpesona oleh hidangan makan Muhammad. Semuanya ini tidak lain karena ‘Utbah merasa ada sesuatu yang diingininya dari Muhammad. Sekarang mari kita temui ‘Utbah!”
Maka pergilah mereka bersama-sama menemui ‘Utbah, lalu Abu Jahal berkata, “Wahai ‘Utbah! Apa yang menahan engkau sehingga tidak menemui kami lagi? Tentu engkau sudah tertarik dengan agama Muhammad dan engkau merasakan enak makanannya. Kalau engkau memerlukan barang sesuatu kepada kamilah minta, jangan kepada Muhammad. Apa yang engkau perlukan kami cukupi.”
Mendengar itu ‘Utbah marah sekali, sampai dia bersumpah bahwa dia tidak akan berbincang selamanya dengan Muhammad. Lalu dia berkata, “Demi Allah! Kalian semua sudah tahu bahwa di kalangan Quraisy sayalah yang terkaya. Soalnya bukan saya memerlukan apa-apa dari Muhammad. Melainkan kalian suruh aku menemui dia dan saya sebut apa yang menjadi perkataan kita selama ini kepada dirinya. Maka dijawabnya ucapan-ucapan itu dengan susunan kata yang demi Allah kata-kata itu bukan Syair, bukan tenung dan bukan sihir, dibacanya ayat-ayat yang isinya mengancam akan menimpa ke sesiapa yang tidak pedulikan seruannya, bahwa mereka akan ditimpa Shaa’iqah, yang membinasakan ‘Aad dan Tsamud. Sesampai di sana, aku tak tahan mendengarnya. Aku minta kepadanya jangan diteruskan lagi. Kalian sendiri tahu bahwa selama ini Muhammad jika berkata tidak pernah berdusta. Saya merasa takut akan menimpa azab Tuhan kepada kalian.”
Dalam riwayat lain, ucapan ‘Utbah berbeda sedikit dengan adanya perkataan, “Kalau seluruh Arab dapat mematahkannya, biarlah dia dipatahkan orang lain dan kalian jangan ikut! Tetapi kalau dia yang menang menghadapi seluruh Arab, maka ingatlah bahwa kerajaannya adalah kerajaan kamu juga, kemuliaannya kemuliaanmu juga dan kamu akan menjadi manusia yang paling bahagia dan beruntung di samping dia.”
Inti kalimatnya bahwa ‘Utbah menyuruh agar kaum Quraisy membiarkan saja Muhammad , jangan menentangnya)
Mendengar itu, mereka menjawab dengan kecewa, “Rupanya engkau sudah terkena sihir pula dengan lidahnya, demi Allah wahai Abu Walid.”
Utbah jawab, “Itu adalah pndapatku, Adapun apa sikap yang akan kamu lakukan pada Muhammad, itu terserah padamu”
Subhanallah..
Begitulah bahwa sebenarnya musuh-musuh itu sebenarnya pun tahu akan kebenaran itu akan menang, mengerti akan konsekuensi bila melawan tegaknya kebaikan, akan musnah. Namun mereka ternyata lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk sebagaimana kaum Tsamud (ayat 17). Hingga akhirnya mereka pun binasa karena tidak ingin “dibina”.
Akhir kisah ‘Utbah mengenaskan, tewas di perang Badar. Padahal ia sudah terkena ‘percikan’ Hidayah, namun tidak segera disambut. Dia masih juga sombong, riya , ujub dan masih terkena penyakit akut hati lain. Selain itu, dia juga termakan ucapan teman yang jahat (dia merupakan teman akrab Abu Jahal). Dia ‘terikat’ tidak merdeka. Padahal petunjuk sudah sangat jelas, namun begitulah jika Allah tidak berkehendak.
Wallahu’alam
Ada hikmah lain sdrku?
salah satu kisah upaya memadamkan dakwah (1)
“Cobalah lihat siapa di antara kamu yang lebih tinggi pengetahuannya tentang ilmu sihir, ilmu tenung, dan yang ahli juga dalam hal syair. Maka hendaklah ia pergi mendatangi orang ini, yang telah memecah belah jamaah persatuan kita, mengacaukan urusan kita dan mencela-cela agama kita ! Ajaklah dia bicara dan tanyakan benar-benar kepadanya apa sebenarnya yang dia ingini.”
Lalu mereka mengeluarkan pendapat : “Di antara kita ini tidak ada orang yang lebih pintar dalam segala yang disebutkan itu melainkan ‘Utbah bin Rabi’ah”
Lalu mereka menyampaikan kepada ‘Utbah, “Hai Abu Walid, engkaulah yang melakukan tugas ini!”
‘Utbah menyanggupi, lantas segera pergi menemui Nabi. Setelah bertemu ia bertanya, “Hai Muhammad, coba jawab pertanyaanku! Manakah yang baik, engkaukah atau ayahmu Abdullah?”
Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam diam.
Lalu ‘Utbah meneruskan pertanyaannya pula : “Hai Muhammad! Mana yang lebih baik, engkau atau nenekmu Abdul Muthalib?”
‘Utbah meneruskan kata-katanya pula, “Kalau engkau katakan bahwa ayahmu dan nenekmu itu yang lebih baik, maka semuanya adalah menyembah kepada tuhan-tuhan yang engkau hinakan itu. Kalau engkau katakan bahwa engkau lebih baik, coba terangkan dengan jelas supaya kami dengar kata-kata engkau. Demi Allah, tidaklah kami melihat seekor kambing hitam dalam kaum kita yang lebih celaka dan malapetaka kepada kaum kita melebihi engkau; Engkau pecahkan jamaah kami, engkau kacaukan urusan kami, engkau cela agama kami dan engkau beri malu kami dalam kalangan seluruh Arab, sehingga tersiarlah berita di antara mereka bahwa dalam Quraisy sekarang ada seorang tukang sihir, dalam Quraisy sekarang ada seorang tukang tenung. Demi Allah tidak ada yang kami tunggu sekarang kecuali seumpama ratap tangisnya seorang perempuan bunting, sehingga berkelahi antara kita sama kita, dan kita punah semua karena pedang kita sendiri.
“Hai Muhammad, kalau memang engkau jantan, berhentilah dari pekerjaan ini. Kalau engkau menginginkan harta, akan kami kumpulkan harta itu untuk engkau sehingga engkau satu-satunya yang paling kaya di antara kami. Kalau engkau ingin hendak beristri, pilihlah di antara perempuan-perempuan Quraisy ini mana yang engkau senangi, akan kami beri engkau istri sepuluh.”
Setelah selesai ‘Utbah bin Raba’ah atau Abul Walid itu berkata, bertanyalah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam : “Apakah engkau sudah selesai?”
‘Utbah menjawab: “Sudah!”
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membaca surat Fushshilat ini sejak dari ayat pertama hingga ayat 13
(To be continued...)
Belajar lah kita bahwa pecundang-pecundang dakwah senantiasa mencari cara , metode ataupun tokoh besar atau dengan kata lain menggunakan jalan ‘terbaik’ dalam menghadapi pejuang dakwah . Bertujuan untuk memadamkan api dakwah Islamiyah.
Mereka merendahkan pejuang dakwah, memfitnah dsn semacamnya, mengatakan mereka merusak ‘ketenangan’ (padahal kejahiliahan) masyarakat.
dan da'i mesti tenag dalam menghadapinya, tetap teguh meski dunia ditawarkan padanya...
Ada hikmah lain sdrku??
Semoga Allah menjaga dan semakin memahamkan kita
Aamiin
Senin, 15 Juli 2013
taubatnya seorang ummat Nabi Musa
Saat itu terjadi paceklik yang luar biasa yang hampir membinasakan seluruh rakyat, begitu halnya dengan binatang ternak. Semuanya kelaparan karena tidak ada setetes airpun yang turun dari langit. Hingga rakyatnya Nabi Musa menghadap beliau dan berkata, “Wahai Musa, berdoalah dan mintalah kepada Tuhanmu agar menurunkan hujan kepada kami.”
Saat itu, jumlah rakyat Bani Israil mencapai tujuh puluh ribu orang. Lantas Musa mengumpulkan mereka di satu tempat. Musa beserta rakyatnya mulai memanjatkan doa dan memohon hujan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Tapi tetap tidak ada setetes pun air yang turun dari langit. Musa berkata, “Ya Rabb, mengapa Engkau tidak menurunkan hujan kepada kami, sementara kami telah memohon ampun dan mengemis kepada-Mu.”
Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, “Wahai Musa, di antara kalian ada seorang lelaki yang mendurhakai-Ku selama empat puluh tahun. Dengan kemaksiatannya itulah, kalian telah menghalang-halangi turunnya hujan dari langit.”
Musa berkata, “Ya Rabb, kalau demikian adanya apa yang mesti aku lakukan?”
Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, “Wahai Musa, keluarkan orang itu yang berada di antara kalian. Jika ia telah keluar, hujan akan segera turun.”
Lantas Musa berdiri di depan rakyatnya seraya berkata kepada mereka, “Aku bersumpah kepada Allah, di antara kita yang berkumpul di sini, ada seseorang yang telah berbuat maksiat dan mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala selama 40 tahun, Aku berharap, siapapun dia agar keluar karena hujan tidak akan turun sampai ia keluar dari perkumpulan kita saat ini.”
Ada seorang lelaki yang berada di antara mereka. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada seorang pun yang terlihat akan keluar dari kerumunan itu. Dari sini ia menyadari bahwa lelaki yang dimaksud Musa adalah dirinya.
Lantas ia berkata, “Ya Rabb, aku telah berbuat maksiat kepada-Mu selamat empat puluh tahun, dan selama itu pula Engkau menutupinya. Ya Rabb, jika pada hari ini aku keluar dari sini, semua orang akan tahu bahwa akulah orang yang telah durhaka kepada-Mu. Tapi jika aku tetap berada di sini, kami semua akan binasa dan hujan tidak akan turun. Ya Rabb, pada hari ini, aku bertaubat kepada-Mu, aku menyesali apa yang telah aku perbuat, tutupilah kesalahan dan kemaksiatanku.”
Tidak lama setelah itu, hujan pun turun. Melihat hal itu, Musa merasa heran dan berkata, “Ya Rabb, tidak ada seorangpun yang keluar dari perkumpulan kami, tapi kenapa hujan sudah turun.”
Allah menjawab, “Wahai Musa, hujan turun karena pertaubatan hamba-Ku yang telah mendurhakai-Ku selama 40 tahun lamanya.”
Musa berkata, “Ya Rabb, tunjukkan kepadaku orang tersebut, sehingga aku dapat mengucapkan terima kasih kepadanya.”
Allah menjawab, “Wahai Musa, ia telah mendurhakai-Ku selama 40 tahun dan selama itu pula Aku menutupinya. Apakah pada hari di mana ia menyatakan taubat dan kembali kepada-Ku, Aku akan menampakkannya...?”
Rabu, 29 Agustus 2012
AKU MALU MENATAP WAJAH SUAMIKU (kisah nyata-Abu Fahd)
oleh Abu Fasih
Pernikahan
itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu
belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik:
“kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau
istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik. Tanpa
sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter
untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa
sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami
tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk
sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
Senin, 20 Agustus 2012
Perempuan Berakhlak Mulia
FATHIMAH
RA bergegas menggandeng Hasan RA yang masih kecil. Terngiang di
telinganya pesan sang ayahanda, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
untuk menemui seorang muslimah berakhlak mulia dan meneladaninya. Tak
sabar rasanya Fathimah untuk segera mengetahui, seperti apa gerangan
teladan wanita bernama Siti Muthi’ah tersebut.
Sesampainya di
depan pintu rumah yang dimaksud, Fathimah pun mengucap salam. Tak lama
kemudian si pemilik rumah datang membuka pintu. Hatinya sangat heran
bercampur senang karena tak menyangka yang bertandang adalah putri
Rasulullah SAW. Namun, sungguh di luar dugaan Fathimah, setelah
mengutarakan maksud kedatangannya, Muthi’ah malah berkata, “Sungguh
bahagia aku menyambut kedatanganmu Fathimah. Namun, maafkanlah aku
karena aku hanya dapat menerima kedatanganmu di rumahku. Sesungguhnya
suamiku mengamanatkan padaku untuk tidak menerima tamu lelaki di
rumahku.”
Fathimah tersenyum, “Wahai Muthi’ah, ini Hasan anakku
dan dia masih kecil.” Muthi’ah menjawab, “Sekali lagi maafkan aku
Fathimah, meskipun ia masih kecil tetapi ia lelaki. Sungguh aku tidak
dapat melanggar amanat suamiku.”
Mendengar jawaban Muthi’ah,
Fathimah mulai merasakan kemuliaan akhlak Muthi’ah dan semakin ingin
mengetahui lebih jauh keutamaan akhlak wanita tersebut. Akhirnya
Fathimah pun pamit untuk sejenak mengantar Hasan pulang.
…Rasulullah SAW telah mengabarkan keteladanan akhlaq Muthi’ah...
Sabtu, 23 Juli 2011
Kisah bidadari Ainaa'ul Mardhiyah

Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdul Wahid bin Zaid:
"Pada suatu hari ketika kami di dalam satu majlis persiapan untuk pergi berjihad, aku memerintahkan kawan-kawanku untuk mula keluar ke medan peperangan pada hari Isnin, lalu seorang dari kami membaca ayat 11 surah At-taubah yang bermaksud: "Sungguh Allah SWT telah membeli dari kaum Mukminin jiwa dan harta mereka dengan syurga".
Di dalam majlis itu ada seorang pemuda yang berumur 15 tahun. Beliau yang baru kematian bapanya telah menerima harta waris yang banyak telah berkata: "Ya Abdul Wahid, aku bersaksikan padamu untuk menjualkan diri dan hartaku untuk mendapatkan syurga itu".
Aku berkata padanya: "Sungguh berat untuk menghadapi tajamnya pedang itu sedangkan kamu masih kanak-kanak, aku takut kamu tidak tabah, juga tidak sabar untuk menghadapinya sehingga tidak kuat meneruskan penjualan itu".
Pemuda itu lantas berkata: " Wahai Abdul Wahid, apakah aku akan lemah kalau aku menjualkan diriku pada Allah SWT? Aku persaksikan padamu sekali lagi bahwa aku telah menjualkan diriku pada Allah SWT. Kami tidak merasakan anak kecil tidak boleh berbuat demikian". Maka pemuda itu menyerahkan semua hartanya yang ada kecuali pedang, kuda dan sedikit bekalan untuk ke medan peperangan.
Bila tiba hari Isnin, beliaulah orang yang pertama sampai untuk berangkat ke perbatasan dan mengucap salam kepada ku: "Assalamualaikum ya Abdul Wahid". Aku menjawab: "Wa alaikassalam warahmat Allah wabarakaatuh. Semoga Allah SWT memberi keuntungan dalam jualanmu itu."
Ketika perjalanan, pemuda itu berpuasa di siang hari dan bangun sembahyang serta menjaga keselamatan kami di waktu malam. Beliau jugalah yang menjaga ternakan yang kami bawa sambil melayani keperluan kami di siang hari. Ketika sampai di sempadan negeri Rum, tiba-tiba pada suatu hari selepas waktu Asar, pemuda itu datang meluru sambil menyeru: "Alangkah rindunya aku akan Ainaa’ ul Mardhiyah". Ramai di antara kami menyangka pemuda itu mengalami ganguan saraf ingatan.
Lalu aku menyambut kedatangannya seraya bertanya: "Wahai kesayanganku, apakah itu Ainaa’ ul Mardhiyah?".
Lantas beliau menjawab: "Tadi aku tertidur sebentar. Aku bermimpi seseorang datang kepadaku seraya berkata, mari aku bawa kamu bertemu Ainaa’ ul Mardhiyah. Aku dibawa ke satu taman yang sangat cantik. Di situ ada sungai yang airnya sangat jernih. Aku melihat ramai gadis yang kecantikan mereka tidak dapat aku gambarkan, lengkap dengan perhiasan sedang bermain di taman itu. Apabila mereka menyedari kehadiranku, dengan wajah teramat gembira mereka berkata Demi Allah, itulah suami Ainaa’ ul Mardhiyah. Lantas aku memberikan salam kepada mereka, Assalamualaikunna, apakah di sini tempat Ainaa’ ul Mardhiyah? Mereka menjawab salamku dan berkata tidak, kami hanyalah budak dan pelayannya, majulah kamu ke depan lagi."
Pemuda itu meneruskan ceritanya: "Akupun meneruskan perjalananku sehingga sampai ke satu taman yang ada sungai susu yang tidak berubah rasa. Kehadiranku disambut oleh sekumpulan gadis yang lebih cantik dari yang pernah ku lihat sebelum mereka. Mereka berkata, Demi Allah lihatlah, suami Ainaa’ ul Mardhiyah sudah sampai. Akupun mengucapkan salam kepada mereka lantas bertanya, apakah ada di antara kamu ini Ainaa’ ul Mardhiyah? Sesudah menjawab salamku mereka berkata yang mereka adalah budak serta pelayan-pelayan Ainaa’ ul Mardhiyah. Mereka meminta agar aku meneruskan perjalananku."
Pemuda itu berkata lagi: "Aku meneruskan perjalananku sehingga sampai ke satu lembah yang ada sungai khamar pula. Di situ ramai gadis sedang bersuka ria, yang mana mereka lebih cantik sehingga menyebabkan aku lupa akan kecantikan gadis yang aku lihat sebelum mereka. Akupun mengucap Assalamualaikunna, apakah ada pada kamu Ainaa’ ul Mardhiyah? Mereka juga berkata tidak, kami hanyalah budak dan pelayannya, teruskan perjalanan kamu ke hadapan."
Pemuda itu menyambung cerita: "Tiba-tiba aku bertemu pula dengan sungai madu di dalam satu kebun. Ku lihat kebun itu dipenuhi dengan ramai gadis yang bagaikan cahaya dalam kecantikan mereka. Aku mengucap Assalamualaikunna, apakah di sini ada Ainaa’ ul Mardhiyah? Mereka menjawab Ya Wali Allah, kami hanyalah budak serta pelayannya sahaja. Majulah kamu ke hadapan".
Pemuda itu mengakhirkan cerita: "Akupun meneruskan perjalanan. Tiba-tiba aku sampai pada satu kemah yang diperbuat dari permata yang berlubang. Ku lihat ada seorang gadis yang lebih cantik dari sebelumnya sedang menjaga pintu kemah tersebut. Setelah ia melihat akan kehadiranku, dengan nada gembira ia berseru, wahai Ainaa’ ul Mardhiyah, suami kamu sudah sampai. Dengan rasa penuh rindu, akupun meluru masuk ke dalam kemah berkenaan. Di dalam kemah itu ada satu tempat tidur yang diperbuat dari emas yang bertaburan permata yakut serta berlian. Sungguh aku terpesona bila ku lihat akan kehadiran seorang gadis yang sangat cantik rupawan, menatap aku dalam senyuman duduk di atas tempat tidur berkenaan. Dengan alunan suara merdu ia menyambut aku dengan kalimat, Marhaban bi waliyir Rahman, sudah terlalu hampir saat pertemuan kita. Aku ingin mendakapnya. Tapi Ainaa’ ul Mardhiyah lantas berkata kepadaku, sabarlah dahulu wahai kakandaku kerana belum tiba masanya, kamukan masih hidup di alam dunia. Nanti bila malam kamu akan berbuka puasa di sini InsyaAllah. Kemudian akupun tersedar dari tidurku. Wahai Abdul Wahid, aku rasa tidak sabar lagi…"
Abdul Wahid berkata: "Belum sempat pemuda itu menghabiskan ceritanya, tiba-tiba kami diserang oleh pasukan musuh. Bersama pemuda itu kami melakukan serangan balasan terhadap pasukan musuh berkenaan. Setelah ia berjaya membunuh sembilan orang kafir, akhirnya ku lihat pemuda itu rebah Akupun segera pergi ke arahnya. Dalam keadaan tubuhnya yang berlumuran darah, ku lihat pemuda itu dalam keadaan tersenyum dan bau tubuh yang wangi sehingga ia meninggal dunia dengan syahid."
Barakalllahufikum..
Wassalam
from :http://indahaktalifia.multiply.com/
Sabtu, 23 April 2011
Mangkuk , Madu dan Sehelai Rambut
Abu Bakar Ash Shiddiq r.a berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.
Umar bin Khattab r.a berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Utsman bin Affan r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Fathimah Az Zahra r.ha. berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk beramal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Allah SWT berfirman, ” Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Kamis, 14 April 2011
Bertaubat dari Zina Mata Mengantarnya Ke Surga

Sesungguhnya, ia tak sengaja. Waktu itu ada misi yang harus dikerjakannya. Kesalahannya –kalau boleh dibilang begitu- hanya satu; ia tidak konsentrasi. Ia menoleh ke arah lain. Mengarahkan pandangannya ke rumah di kota itu; Madinah.
Ia tengah menjalankan tugas dari Rasulullah SAW untuk suatu keperluan. Di tengah jalan, "bencana" datang menyapanya. Sewaktu melayangkan pandang ke salah satu rumah yang tidak tertutup pintunya, terlihatlah olehnya wanita yang sedang mandi. Mungkin hanya dalam hitungan detik, bukan menit.
Wajahnya mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia segera berlari melewati rumah demi rumah, kampung demi kampung, hingga keluar Madinah. Ia tiba di sebuah padang pasir yang sepi. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali apa yang telah dilihatnya. Dengan derai air mata dan suara yang tersisa ia memohon ampunan Rabbnya.
Rasulullah kehilangan sahabat ini untuk satu hari. Beliau bertanya-tanya, tetapi sahabat yang lain tidak juga mengetahui keberadaannya. Hingga berlalulah empat puluh hari. Akhirnya malaikat datang mewahyukan di mana ia berada. Umar dan Salman ditugasi Sang Nabi untuk menjemputnya.
Dengan susah payah Umar berhasil menemukannya. Ia memeluk sahabat itu penuh rindu. “Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW tentang dosaku", tanyanya penuh kekhawatiran. “Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, Rasulullah menugaskan kami untuk mencarimu.”
“Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah, kecuali ketika beliau sedang shalat.”
Sesampainya di Madinah dan mendapati Rasulullah membaca Al-Qur'an dalam shalatnya, sahabat ini pingsan. Ia jatuh sakit hingga berhari-hari. Ketika Rasulullah tahu kondisinya dan menjenguk ke sana, ia masih saja khawatir akan dosanya. “Apa yang kau rasakan?” Rasulullah bertanya kepada sahabat yang kini telah berada dalam pangkuannya ini. “Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku”.
“Apa yang kau inginkan?” tanya beliau lagi. “Ampunan Rabbku”, jawabnya penuh harap. Tak lama kemudian Jibril menyampaikan wahyu, “Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, ‘Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.”
Ketika Rasulullah SAW memberitahu wahyu ini kepadanya, sahabat ini meninggal seketika. Namanya Tsa'labah.
Tsa'labah. Ia mengajarkan kepada kita untuk bertaubat, bahkan dari kemaksiatan yang –oleh orang di zaman sekarang- tidak dianggap. Ia mengajarkan kepada kita untuk bertaubat, meskipun dari kesalahan yang sebenarnya tidak disengaja.
Ah... memang begitulah orang-orang shalih itu selalu mempesona. Mereka memiliki ketakutan yang luar biasa kepada Tuhannya hingga senantiasa sensitif terhadap dosa. Dan dari sana ia bergerak cepat menuju keridhaan Rabbnya. Bertaubat, mengejar akhirat. Dunia seakan dicampakkan begitu saja. Dan pada akhirnya... itu membawa mereka ke surga.
Beruntunglah Tsa'labah... dan orang-orang shalih yang mengambil jalan yang sama; taubatan nasuha. Ia tidak berapologik bahwa itu bukan kesalahannya; justru ia sangat cemas bahwa apa yang dilihatnya, meskipun tidak lama, sudah masuk pada tataran zina. "…Dua mata zinanya melihat, dua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya menyentuh,…" sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini demikian menancap di jiwa, menggerakkannya untuk bertaubat saat itu juga.
Beruntunglah mereka yang menyadari kesalahannya, atau bahkan merasa bersalah meskipun tidak sengaja, lalu menghampiri ampunan Allah dengan taubatnya. “Setiap bani Adam (pernah) berbuat salah," sabda Rasulullah dalam kesempatan lain yang direkam oleh Imam Tirmidzi, "dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.”
Mungkin ada orang-orang yang memandang orang Shalih seperti Tsa'labah dengan tatapan hina. Menjustifikasinya sebagai orang yang melakukan kesalahan besar. Mungkin disebabkan mereka tidak tahu, bahwa justru dari kesalahan itu ia memperoleh derajat mulia di sisi Rabbnya. Dari kacamata dunia mungkin "sejarah" Tsa'labah berakhir di sana; ia menyendiri, sakit, lalu mati. Namun dalam pandangan Allah, Rasul-Nya, kemudian kaum mukminin yang ditunjukkan Allah akan hakikatnya, Tsa'labah memperoleh keberuntungan luar biasa; ridha Allah dan surga-Nya.
Ya Allah... jadikanlah kami hamba-hambaMu yang bertaubat, janganlah Engkau benamkan kami dalam golongan orang-orang yang mencari kesalahan saudara kami dan merasa lebih baik dari mereka yang telah menangisi kesalahannya, menyesali dosanya, dan bersimpuh pada-Mu dengantaubat nasuha...
Ya Allah... jika hari ini kami masih dinilai mulia oleh manusia, itu hanya karena Engkau tidak membuka semua aib diri ini kepada mereka. Maka tutupilah aib kami yang telah terukir di masa lalu dengan ampunanmu... lindungilah kami dari aib baru dengan taqwa kepadaMu.
Ya Allah... janganlah Engkau uji kami dengan ujian yang kami tidak sanggup memikulnya. Jangan biarkan hambaMu ini sendirian dalam menghadapi beratnya kehidupan dunia yang sering menyeret jiwa dalam lembah noda, memelesetkan kaki dalam jerembab dosa, atau membuat kami terpelanting dalam jurang nista...
Ya Rabb... jika Engkau nampakkan kesalahan kami untuk memperbaiki kami, jadikanlah kami ridha menerimanya dengan segera bertaubat kepadaMu dan meningkatkan kualitas diri kami. Namun jika apa yang menimpa saudara-saudara kami seiman adalah tipu daya, sungguh... hanya kepada-Mu kami mengadukan kelemahan kami, kurangnya kekuatan kami, dan rapuhnya siasat kami berhadapan dengan manusia.
Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi orang lemah, dan Engkau jualah pelindung kami! Kepada siapakah kami hendak Engkau serahkan? Kepada orang-orang yang tidak menyukai kami, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diri kami? Jika Engkau tidak murka kepada kami, maka itu semua tak kami hiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Kami berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepada kami. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diri kami hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun melainkan atas perkenan-Mu”.
Alaahumma aamiin. oleh : [Muchlisin]
http://muchlisin.blogspot.com/2011/04/bertaubat-dari-zina-mata-mengantarnya.html
Saat Iblis menemui Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam
Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba – tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? sebab kalian akan membutuhkanku. “
Rasulullah bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?“
Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.“
Beliau melanjutkan, “itu iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah“
Nabi menahannya: ”Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.“
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapa 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,…. . salam untukmu para hadirin…“
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?“
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.“
“Siapa yang memaksamu?“
“Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.
Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia.
Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.“ oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku.
Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.“
Orang Yang Dibenci Iblis
-----------------------------
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis:
“Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: ” Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?“
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
"lalu siapa lagi?“
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?“
“Orang yang selalu bersuci.“
“Siapa lagi?“
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.“
“apa tanda kesabarannya?“
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang – orang yang sabar.“
“Selanjutnya apa?“
“Orang kaya yang bersyukur.“
“apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?“
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.“
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.“
“Usman bin Affan?“
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?“
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selalu berdzikir terhadap Allah SWT)
Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
----------------------------------------
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?“
“aku merasa panas dingin dan gemetar.“
“Kenapa?“
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.“
“Jika seorang umatku berpuasa?“
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?“
“Aku seperti orang gila.“
“Jika ia membaca al-Quran?“
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.“
“Jika ia bersedekah?“
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“mengapa bisa begitu?“
“sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.“
“apa yang dapat mematahkan pinggangmu?“
“suara kuda perang di jalan Allah.“
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?“
“taubat orang yang bertaubat.“
“apa yang dapat membakar hatimu?“
“istighfar di waktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“sedekah yang diam – diam.“
“Apa yang dapat menusuk matamu?“
“Shalat fajar.“
“Apa yang dapat memukul kepalamu?“
“Shalat berjamaah.”
“Apa yang paling mengganggumu?“
“Majelis para ulama.“
“bagaimana cara makanmu?“
“dengan tangan kiri dan jariku.“
“dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?“
“di bawah kuku manusia.”
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
-----------------------------------------
Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?“
“Pemakan riba.“
“Siapa sahabatmu?“
“Pezina.“
“Siapa teman tidurmu?“
“Pemabuk..”
“Siapa tamumu?“
“Pencuri.“
“Siapa utusanmu?“
“Tukang sihir.“
“Apa yang membuatmu gembira?“
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?“
“Orang yang meninggalkan shalat jumaat“
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?“
“orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”
Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
--------------------------------------------------
Rasulullah SAW lalu bersabda :
“Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.“
Iblis segera menimpali: ” tidak, tidak… tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir..
Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku.
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua.
Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”
“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.“
Iblis Dibantu oleh 70.000 anak – anaknya
------------------------------------------------
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang – orang tua, sebagian untuk menggangu wanita – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaithan juga berkata,”keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.
mereka, anak – anakku selalu menyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad?
bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun.
Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.
Cara Iblis Menggoda Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
--------------------------------------------------
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barang siapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku.
Ghibah(gosip) dan Namimah(Adu domba) kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia menundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya ke mukanya..
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ‘shalatmu tidak sah’
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan iapun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?“
10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT
-------------------------------------------
“berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam“
“apa saja?”
“aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.
Allah berfirman, “berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah berfirman, “Orang – orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : “wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”
jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun.
sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.
kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :
”mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119)
juga membaca, “Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata: “wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin pendudk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk – mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.“
Iblis berkata kepada Robbnya, "Dengan keagungan dan kebesaranMu, aku tidak akan berhenti menyesatkan bani Adam selama mereka masih bernyawa." Lalu Allah berfirman: "Dengan keagungan dan kebesaranKu, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka beristighfar". (HR. Ahmad)
Puncak istighfar ialah ucapan seorang hamba:
"Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau Penciptaku dan aku hambaMu yang tetap dalam kesetiaan dan janjiku sepanjang kemampuanku. Aku kembali kepada-Mu dengan kenikmatan dan kembali kepada-Mu dengan dosaku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada pengampun dosa-dosa kecuali Engkau."
Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengucapkan doa itu dengan penuh keyakinan pada siang hari dan ternyata wafat pada hari itu sebelum senja maka dia tergolong penghuni surga. Barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan dan wafat sebelum subuh maka dia tergolong penghuni surga pula." (HR. Bukhari)
Sesungguhnya Allah menurunkan kepadaku dua keselamatan bagi umatku. Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada diantara mereka dan Allah tidak akan mengazab mereka sedang (mereka) beristighfar (minta ampun), bila aku (Nabi Saw) pergi (tiada) maka aku tinggalkan bagimu istighfar sampai hari kiamat. (HR. Tirmidzi)
Semoga Bermanfaat
:)
Kamis, 07 April 2011
Asma binti Abu Bakar r.ha.
diambil dari : Kisah-kisah Islami (Facebook Group)
Jumat, 25 Maret 2011
=Tiga Kisah Lima Sahabat=
Suatu ketika Ra...sulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”
“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.
Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.
“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.
Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.
Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.
Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.
Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”
Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.
Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.
Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”
Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”
Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.
Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?
Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.
Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”
Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”
Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”
Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia.
abi kasman
Sabtu, 05 Februari 2011
Dialog Rasulullah dengan Abu Dzarr ra

Inilah sebagian dialog antara Rasulullah saw dengan Abu Dzarr ra
♥ ♥ Abu Dzar ra bertanya pada Rasulullah;
~''Amal apakah yang paling afdhal?''...Rasulullah;''Iman kepada Allah dan berjihad di jalan Allah ''
...~''Mu'min yang bagaimana yang paling afdhal ?''Rasulullah saw ;''Ialah yang TERBAIK AKHLAKnya''
~''Muslim yang bagaimana yang paling selamat?''Rasulullah saw;''Ialah yang menyelamatkan orang orang dari gangguan lidahnya dan tangannya''
~''Hijrah yang bagaimana yang afdhal?''Rasulullah saw;''Ialah hijrah dari meninggalkan perbuatan maksiat''
~''Shalat yang bagaimana yang afdhal ?''Rasulullah saw;''BERKHUSYU yang panjang /lama berdiri''
~''Hamba hamba sahaya yang manakah yang paling afdhal untuk dimerdekakan?''Rasulullah saw;''Ialah yang paling mahal harganya,dan yang paling disayang oleh pemiliknya''
~''Sedekah yang bagaimana yang paling afdhal.ya Rasulullah ?''Rasulullah saw;''Ialah pemberian dari orang yang masih BERKEKURANGAN/TIDAK KAYA,dan pemberian secara rahaisa kepada seorang fakir miskin''
~''Berapakah bilangan nabi nabi ya Rasulullah ?''
Rasulullah saw;''Seratus dua puluh empat ribu''
~''Berapakah yang menjadi Rasul diantara mereka ya,Rasulullah?''
Rasulullah saw;''Sebanyak 313''
~''Siapakah yang pertama ya Rasulullah?''
Jawab;''Adam''
~''Apakah ia seorang nabi yang diutus?''
Rasulullah saw;''Benar,ia diciptakan oleh Allah dengan tanganNYA,ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang disempurnakan''
~''Ya Rasulullah,apakah isi lembaran lembaran yang diturunkan kepada IBRAHIM?''
Jawab Rasulullah saw;''Isinya ialah ;''Hai raja yang berkuasa,dipuji dan sombong,sesungguhnya AKU TIDAK MENGUTUSMU UNTUK
MENGUMPULKAN DUNIA,MENUMPUK SEBAGIAN DIATAS SEBAGIAN,akan tetapi AKU mengutusmu untuk menerima doanya ORANG YANG TERANIAYA jangan smapai kepadaKU,karena AKU TIDAK AKAN MENGEMBALIKANNYA WALAUPUN DATANG DARI SEORANG KAFIR.
Seorang yang bijaksana akan MEMBAGI WAKTUNYA menjadi bbeberapa saat untuk BERMUNAJAT dengan TuhanNYA.
Beberapa saat untuk BERTANYA PADA DIRI SENDIRI/INTROSFEKSI.
Beberapa saat untuk MERENUNGKAN ciptaan Allah dan beberapa saat untuk MENGURUS KEBUTUHAN MAKAN dan minumnya.
Seorang yang bijaksana tidak akan meributkan diri melainkan untuk 3 tujuan;
~Mencari BEKAL UNTUK HARI KEMUDIAN
~Mencari NAFKAH HIDUP
~Mencari KELEZATAN YANG HALAL.
Seorang yang bijak hendaklah mengenal ZAMAN,tekun mengurus urusannya,menjaga LIDAHNYA.Dan barangsiapa menyesuaikan bicaranya dengan perbuatannya,maka akan JARANG BERBICARA MELAINKAN DALAM HAL HAL YANG MENGENAI DIRINYA''
~''Apakah isi lembaran lembaran yang diturunkan atas Musa,YA Rasulullah ?''
Jawab;''iSINYA adalah semua peringatan yang ibrah,aku heran dari orang yang YAKIN AKAN MATI BAGAIMANA IA DAPAT BERSUKA RIA,aku heran dari orang yang YAKIN AKAN ADANYA TAQDIR BAGAIMANA IA MEMBANTING TULANG BEKERJA,aku heran akan orang
MELIHAT KEADAAN DUNIA YANG SELALU BERUBAH BAGAIMANA IA DAPAT TENANG MEMPERCAYAINYA dan aku heran dari orang yang YAKIN ADANYA HARI HISAB BESOKBAGAIMANA IA ENGGAN BERAMAL''
~''Ya Rasulullah,apakah ada yang sampai kepada kita sesuatu yang dahulu ada di tangan Ibrahim dan Musa,dan apakah yang
diturunkan Allah kepadamu?''
Jawab;''Ada,coba bacalah hai Abu Dzarr,''Sesungguhnya beruntunglah orang yang MEMBERSIHKAN DIRI/dengan beriman dan ia INGAT
nama Tuhannya,lalu ia bersembahyang.Tetapi kamu orang orang kafir memilih KEHIDUPAN DUNIA.Sedang kehidupan AKHIRAT LEBIH BAIK DAN LEBIH KEKAL.
Sesungguhnya ini benar benar terdapat kitab kitab yang dahulu yaitu kitab kitab Ibrahim dan Musa.
~''Apakah wasiatmu kepadaku,Ya Rasulullah''
Jawab Rasulullah;''Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah,karena itu taqwa adalah POKOK SEGALA PERSOALAN.''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Bacalah al Quran dan DZIKIRLAH/INGATLAH KEPADA ALLAH,mkarena akan menjadi peringatan bagimu di langit dan CAHAYA BAGIMU DI DUNIA''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Hindarilah banyak TERTAWA,karena itu MEMATIKAN MATI DAN MENGHILANGKAN CAHAYA WAJAH''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Laksanakanlah kewajiban berjihad,karena itu merupakan kerahiban perjuangan bagi umatku''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Hendaklah engkau selalu DIAM/tidak bercakap,melainkan untuk KEBAIKAN,karena itu untuk mengusir syetan dan MENOLONG
DALAM URUSAN AGAMAMU''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Lihatlah daripada orang yang dibawahmu dan janganlah melihat orang yang berada diatasmu,agar engkau tidak memandang rendah nikmat Allah kepadamu.''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Hubungilah kerabatmu,walaupun mereka memutuskan hubunganmu dengan engkau''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Katakanlah apa yang benar walaupun itu merupakan hal yang PAHIT?''
~''Apalagi ya Rasulullah?''
Jawab;''Janganlah engkau takut DICERCA ORANG KARENA MEMBELA AGAMA ALLAH ''
~''aPALAGI YA Rasulullah?''
Jawab;''Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan MENCEGAHMU MENCAMPURIURUSAN ORANG LAIN dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang TIDAK MELAKUKAN APA YANG ENGKAU SUKAI.Dan cukup sebagai AIB bahwa ENGKAU MENGETAHUI TENTANG ORANG LAIN APA YANG ENGKAU TIDAK MENGETAHUI TENTANG DIRIMU SENDIRI''
Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Husain dari Idris al Khaulani.