Tampilkan postingan dengan label sele-sele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sele-sele. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Bacaan Majelis Dzikir al-Muhajirin

Astaghfirullahal’adzim alladzi lailahaaillahu wal hayyul qayyum wa’atubu ilahi (3X)

Lailahaaillalahu wahda hula syarikalahu lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa 'ala kulli sya'in qadiru (5x)…

أَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُالسَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ.

A’udzubillahiminassyaithani rajiim

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
 الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ
مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاك نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
   

وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ

ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَىُّ ٱلۡقَيُّومُ‌ۚ لَا تَأۡخُذُهُ ۥ سِنَةٌ۬ وَلَا نَوۡمٌ۬‌ۚ لَّهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشۡفَعُ عِندَهُ ۥۤ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦ‌ۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ‌ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىۡءٍ۬ مِّنۡ عِلۡمِهِۦۤ إِلَّا بِمَا شَآءَ‌ۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ‌ۖ وَلَا يَـُٔودُهُ ۥ حِفۡظُهُمَا‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡعَظِيمُ

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُ ۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآٮِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِ‌ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَڪِيمُ

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُ‌ۗ

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ‌ۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬

تُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِى ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِى ٱلَّيۡلِ‌ۖ وَتُخۡرِجُ ٱلۡحَىَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَتُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَىِّ‌ۖ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬

يَااِلهِي يَاأَللّهُ يَااِلهِي يَا رَبِّيْ ... سُبْحَنَ اللّه

Yaa illahi Ya Allah…Yaa illahi Rabbi…Subhanallah…
Subhanallah (33x)…

Subhanallahal’adzim wabihamdihii da’iman qa’iman abada alhamdulillah…
Alhamdulillah (33x)…

Alhamdulillahirrabbil’alamin ‘ala kulli hallin wafi kulli halliw  wani’matin…Allahu akbar…
Allahu akbar (33x)…

أَللّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَنَ اللّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَه‘ لاَشَرِيْكَ لَه‘، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شُيْئٍ قَدِيْرٌ.

       

Kamis, 19 April 2012

Indah....

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Termasuk Al-Asma’ul Husna adalah al-Jamil ; Yang Maha Indah. Dan siapakah yang lebih berhak terhadap keindahan dari Dzat yang menciptakan segala keindahan di alam ini? Dia, dari bekas-bekas ciptaan-Nya, adalah pemilik keindahan dzat, keindahan sifat, keindahan perbuatan, keindahan nama. Maka nama-nama-Nya semua baik, sifat-Nya semua sempurna, dan perbuatan-Nya semua indah.”

Saudaraku,

Allah Yang Maha Indah, telah Menciptakan alam ini dengan indah. Menghiasinya dengan berbagai macam keindahan. Seperti dalam berbagai ayat-Nya

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, Yaitu bintang-bintang, (QS Ash-Shaffat : 6)

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. (QS AL-Furqaan : 61)

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar :21)

Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, (QS Qaaf :6-10)

Subhanallah….

Allah Membuat segala sesuatu yang Dia Ciptakan dengan sebaik-baiknya, dan segala sesuatu itu pun berdiri dengan keindahannya yang berbeda-beda.

Keindahan itu setidaknya memiliki dua fungsi bagi diri. Pertama, keindahan dapat dijadikan sumber energy atau berfungsi sebagai kekuatan dalam kehidupan. Kedua, keindahan dapat menjadi unsur recovery dalam hidup.

Saudaraku, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Allah menyuruh kita segera bertaubat , juga memerintahkan kita berlomba mengejar surga. Kenapa? Karena dalam surga terdapat puncak segala keindahan.

Allah subhanahu wa ta’ala dalam Menggambarkan surga banyak sekali menjanjikan karunia-karunia keindahan yang berbentuk fisik. Sehingga menggoda inderawi dengan adanya keindahan tersebut seperti sungai-sungai (QS Muhammad 15), bangunan yang bertingkat-tingkat (QS az-zumar : 20), permadani (QS ar-Rahman : 54), bidadari-bidadari (QS al-Kahfi : 31)

Itulah keindahan utama, yakni surga…

Ada pula keindahan-keindahan terdapat di dunia. Keindahan-keindahan ‘terbesar’ yang ditautkan dalam fitrah manusia tercantum dalam firman-Nya,

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS ali-Imran :14)

Namun, karena keindahan-keindahan tersebut hanya sementara diingatkan kembali di ayat berikutnya,

Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS Ali-Imran : 15)

Oleh karena itu, kita dapat mengejar dan meraih kedua keindahan tersebut dan tidak mengabaikan yang lain. Seperti doa indah yang sering kita baca, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Sebagai contoh, Cinta pada perempuan adalah fitrah. Mengapa tidak , padahal dunia ini keindahan dan sebaik-baik keindahan adalah wanita yang sholihah. Oleh karena itu , dibuatkan untuk kita syariatnya yakni pernikahan. Bahkan, pernikahan disebut sebagai setengah agama. Nah, dengan meraih keindahan tersebut kita pun dapat menyambung hidup, menyemangati diri, mengisi ruang-ruang fitrah dan tetap bisa beribadah. Asalkan indah itu diraih juga dengan nilai-nilai syariah.

Keindahan di atas keindahan. Itulah istilah perpaduan antara keindahan dunia bila dimanfaatkan untuk meraih keindahan utama.

Semoga kita tergolong orang yang mendapatkan dua keindahan tersebut. Amin

Saudaraku,

Fungsi keindahan juga sebagai unsur recovery, refresh dalam hidup.

Ketika Rasulullah mengalami ‘tahun kesedihan’ saat beliau ditinggal oleh dua sosok penting dalam hidup. Dua orang itu yakni Abu Tholib yang sering membentengi Rasul dari serangan kafir Quraisy dan istrinya tercinta, Siti Khadijah yang mendukung beliau dengan hati, jiwa dan hartanya. Nah, saat mengalami masa-masa kesedihan itu, beliau pun mendapat hiburan yang luar biasa.

Hiburan itu adalah perjalanan indah yang sangat mengagumkan. Secara fisik dan batin. Yakni Isra’ dan Mi’raj. Dalam perjalanan itulah, Rasulullah menyaksikan berbagai keindahan dan berbagai hal yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Peristiwa itu mengobati suasana hati beliau shalallahu ‘alaihi wa salam kala itu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita pun dianjurkan salah satunya untuk bepergian ke suatu tempat saat mengalami kesulitan. Walaupun bepergian itu mungkin juga memerlukan energy, namun di dalamnya ada sebuah karunia. Karunia itu bernama keindahan…

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab : ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri ini (Mekkah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’”

So, bepergian merupakan salah satu cara untuk recovery atau refresh dalam hidup.


Saudaraku,

Allah memang memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi-Nya, untuk menikmati keindahan-Nya , untuk merenungi kebesaran-Nya. Mengambil pelajaran dari perjalanan. Tentang karunia dan ciptaan-Nya yang tersebar di berbagai penjuru mereka terhampar. Hati yang sakit akut pun menjadi lembut. Semangat pun menguat. Serta kesadaran akan penghambaan kepada Allah jualah kian bertambah.

Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (QS Qaaf :6-8)

Saudaraku,

Ingatlah , Rasulullah kembali dari perjalanan “Isra’ Mi’raj” membawa oleh-oleh yakni perintah sholat wajib bagi Ummat Islam.

Seakan memberi pelajaran bagi kita, bahwa ketika perjalanan-perjalanan, keindahan-keindahan yang kita rasakan. Ketika itulah diharapkan muncul kesadaran untuk semakin bersyukur dan dekat kepada-Nya. Bukan semakin lupa dan jauh…

Semoga kita (dengan perjalan-perjalanan kita yang kita lalui) menjadi semakin dekat dengan Allah. Semoga keindahan-keindahan yang kita rasakan membuahkan kesadaran untuk menghamba kepada Sang Maha Pemilik Keindahan…

Amin

Wallahu musta’an..

Wallahu ‘alam bish Shawab…

Islah, Seorang Manusia

Sabtu, 25 Februari 2012

Ikhwah Simple

Lihatlah Ikhwah / akhwat simple !!
Yakni ikhwah yang sesuai fitrah. Bukan yang menurut pikiran atau perasaan (saja). ‘Kita yang menurut pikiran’ ialah yang sering menipu, sering diada-adakan. ‘Kita menurut perasaan’ ialah kita yang kerap menjadi beban. ‘ kita yang sesuai fitrah’ ialah kita yang selalu condong kepada tauhid. Kepada Allah. Condong pada perbaikan dan kebaikan. ‘kita menurut pikiran dan perasaan’ ialah kita yang relativistik, sering berubah-ubah, selalu goyang mengikut arus kehidupan, sehingga bisa saja hanyut dan tersesat entah kemana.
Lihatlah ikhwah/akhwat simple !!!

Kita yang sesuai fitrah, apa adanya. Insan yang bebas merdeka. Tidak didominasi makhluk lain. Insan yang bebas merdeka, yang menyembah hanya pada Allah semata. Condong kepada kebenaran, perbaikan dan kemuliaan.
Sederhana….
Adapun beberapa sifat ikhwah simple ialah
S.ikap yang benar,
I.stighfar kegemaran,
M.enjaga kehormatan,
P.erbaiki diri terus menerus,
L.uas jaringannya dan
E.tos yang baik dalam kerjanya.
  • Sikap yang Benar
Sikap (attitude) merupakan suatu kecenderungan perasaan terhadap suatu objek. Nah, Ikhwah simple memiliki Sikap yang benar dan tepat dalam berbagai hal. Dia mengerti bahwa pada hakikatnya bahwa kita tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi, namun terpengaruh atas pikiran (yang kemudian melahirkan sikap) terhadap apa yang terjadi. Oleh karenanya, dia selalu berusaha menentukan sikap yang benar.
Dia selalu berbaik sangka kepada Allah. Karena dia sadar bahwa Allah itu bergantung pada prasangka hamba-Nya pada-Nya.
Misalnya, Dia bersandar akan suatu hadist “Perumpamaan dunia di akhirat adalah ibarat salah seorang kalian mencelupkan jarinya ke dalam samudra, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya ketika keluar darinya?”. Oleh karenanya kebahagiaan dunia dan akhirat yang diingininya. Namun, dalam mencapai bahagia di dunia, ia tak ingin merusak kebahagiaan di akhiratnya. Dia tidak ingin terlaknat di dunia dikarenakan ketidakinginannya untuk senantiasa berusaha mendekatkan dirinya pada Allah.
Dia bahkan menjadikan akhirat sebagai impian terbesarnya. Karena ia ingat akan hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi “Siapa yang menjadikan akhirat adalah angannya, maka Allah menjadikan rasa kecukupan di hatinya, Allah mengukuhkan tekadnya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Siapa yang menjadikan dunia adalah angan terbesarnya maka Allah menjadikan keserbakekurangan di antara kedua matanya, Allah melemahkan tekadnya, dan dunia tidak mendatanginya kecuali apa yang telah tertulis untuknya.” Meskipun begitu, ia tidak lantas melupakan dan melepas kebahagiaan dunianya. Dia sadar bahwa melalui dunia terlebih dahulu-lah baru menjumpai akhirat.
Orientasi inilah yang membuatnya bijak dalam menentukan sikap. Sikapnya selalu dilakukannya berbanding lurus dengan garis kebenaran, kebijakan dan tepat. Standar ‘kebenaran’ itulah yang didapatkan dalam al-Quran dan Hadist. Sehingga ia berusaha untuk senantiasa dekat dengan al-Quran dan Hadist. Sehingga dapat menentukan sikap yang tepat.
  • Istighfar Kegemaran
Manusia tidak pernah luput dari kesalahan baik itu kesalahan vertikal maupun horizontal. Kesadaran akan kesalahan ini yang membuat ikhwah simple menjadikan istighfar sebagai kegemarannya. “Sungguh tiap-tiap penyakit itu ada penyakit ada obatnya dan obat dari dosa adalah istighfar (memohon ampun kepada Allah).” (HR ad-Dailamy)

Dia sadar bahwa masalah-masalah itu selalu ada. Mungkin masalah tersebut sebagai pelebur dosa yang pernah dilakukannya atau juga dapat juga sebagai teguran akan banyaknya dosa telah dilakukan. Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengingatkan bahwa Ali bin Abi Thalib RA. Berkata, “Suatu bencana tidak akan diturunkan kecuali karena dosa, dan ia tidak dihilangkan kecuali dengan tobat.”
Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang ma’shum sendiri pun mencontohkan dan mengajarkan pentingnya istighfar sebagai kegemaran harian. Rasulullah saw. Bersabda ,”Wahai manusia,bertaubatlah engkau kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap hari.” (HR Ibn Hibban)
Ikhwah simple tahu bahwa Istighfar merupakan sarana tepat untuk membuka jalan keluar bagi tiap permasalahan yang ada dan mengundang rezeki tanpa terduga. “Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikan setiap kebingungannya sebagai kelapangan, memberi jalan keluar dari setiap kesulitan dan memberinya rezeki tanpa diduga.”
Imam Ibnu Taimiyah berkata: Saat ada masalah yang amat pelik dan rumit, yang sampai membuatku merasa “buntu” dan seakan terkunci pemecahannya bagiku, maka akupun langsung beristighfar kepada Allah sebanyak 1000 kali atau lebih atau kurang, sampai Allah membukakan dan memecahkannya untukku.
Sehingga bila ada masalah, dia akan menghilangkan semua itu salah satu dengan memperbanyak istighfar. (Alright!) Alright (Alright!)

  • Menjaga Kehormatan
Ikhwah simple senantiasa menjaga kehormatannya. Dia berusaha tak emosional karena teringat akan hadist “Siapa yang menahan kemarahannya, padahal ia mampu melampiaskannya, niscaya Allah akan memanggilnya di hadapan sekalian makhluk pada hari Kiamat hingga Dia memberi kesempatan kepadanya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.”
Dia menghindari meminta-minta karena Allah Mencukupkannya. Dia tidak meminta-minta penilaian orang , karena Allah yang menilainya. Dia menjaga kehormatannya.
Selain itu, dia juga menjaga kehormatan orang lain apalagi saudara semuslim. Muslim yang baik ialah orang muslim lain selamat (salim) dari kejahatannya, termasuk kehormatannya. Ikhwah simple sadar akan keutamaan menjaga dan membela kehormatan saudaranya, “Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkan neraka dari wajahnya pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi).

Bahkan andaikata ia menemui aib atau cacat dari saudaranya , maka segeralah ia untuk menutupinya. “Tidaklah seorang muslim melihat aurat (cacat) saudaranya lalu menutupinya, kecuali ia pasti akan masuk surga” (HR ath-Thabrani). Itulah Ikhwah simple.
Menjaga pandangannya, menghindari mencari-cari kelemahan atau aurat saudaranya apalagi menyebarkannya.
  • Perbaiki Diri Terus Menerus
Ikhwah simple tahu bahwa kesempurnaan ialah bukan punyanya. Namun, berjalan ke arahnya merupakan keniscayaan baginya. Oleh karena itu, ia terus menerus dalam perbaikan.
Walau sering jatuh bangun di dalam usahanya namun semangat untuk selalu memperbaiki diri tetap menyala.
Ia selalu meng-upgrade dan meng-update diri tanpa henti. Ikhwah simple ialah orang yang selalu hijau, belum matang karena saat ia merasa ia sudah matang, maka itulah detik-detik baginya menjelang pembusukan.
  • Luas Jaringannya
Ikhwah simple sosok cerdas secara emosional. Dia pun diterima oleh banyak orang. Hablum minannas nya baik. Itu sederhananya. Dia paham memiliki amanah sebagai pembawa risalah menebar rahmah (rahmatan lil ‘alamin).
Jaringan pertemanannya luas karena hubungannya didasari rasa ikhlas. Tidak berteman hanya karena keuntungan pribadi atau kelompok semata. Hubungannya semacam simbiosis mutualisme.
Sosok ikhwah simple senantiasa merawat dan menambah luasnya jaringan persahabatannya.

Dalam membina jaringan, ia senantiasa bersih batin maupun lahir. Dengan demikian, orang pun suka dengan dirinya. Selain itu, dia menerima apa pun keadaan sahabatnya. Sikapnya itu ibarat obat, pahit di awalnya tetapi manis di akhirnya.
  • Etos yang baik dalam kegiatan
Dalam setiap kegiatannya atau amanah yang diemban, ada semacam semangat untuk menyempurnakan segala sesuatunya dan menghindari kerusakan sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk meminimalisir bahkan menghilangkan sama sekali cacat dari kerjanya (no single defect!). Sikap ini sering dikenal dengan ihsan. Senada dengan kata ihsan, dalam Islam dapat ditemukan juga kata itqan, yang berarti proses kerja yang sangat bersungguh-sungguh, akurat dan sempurna. Itulah mengapa ikhwah simple selalu menunjukkan etos dalam amanah atau bekerja , menghasilkan secara sungguh-sungguh tidak medioker. Head (kekuatan pikiran), Heart (kekuatan perasaan) dan Hand (kerja) akan terasa kurang bila tidak dibumbui oleh Hard Working (Semangat). Itulah yang terdapat dalam ikhwah simple .
Semaksimal mungkin ia melaksanakan tugas ataupun kepercayaan yang telah dipercayakan padanya.

Itulah beberapa sifat dari ikhwah simple menurut penulis. Terinspirasi dari bacaan buku dan gabungan sifat beberapa teman-teman ataupun tokoh-tokoh yang menurut penulis sungguh luar biasa (Semoga penulis dapat seperti mereka sifatnya) serta dari sebuah lagu yang cukup popular.
He is enjoy his life or they are enjoy their life.
Lihatlah ikhwah simple !!

Ayo berusaha menjadi sepertinya.
Wallahu musta'an
Islah , seorang Manusia

Foto : Rihlah Bareng Teman, 6 Desember 2015. Binjai 

Rabu, 22 Februari 2012

SeCuil hal tentang Syuro UKMI (1)

Syuro UKMI ialah salah satu pembeda UKMI dengan UKM lain. Syuro UKMI adalah musyawarah yang benar-benar diupayakan penjagaan nilai-nilai Islami. Berikut ialah urutan-urutan yang biasanya menjadi standar (setidaknya yang saya tahu dan ingat saat menulis ini) dalam sebuah syuro UKMI selama saya menjadi pengurus UKMI

  • Sebelum musyawarah hendaknya mengetahui maksud dan tujuan syuro tersebut (walaupun secara global). Karena suatu buku tentu memiliki tema.

  • Mempersiapkan tempat syuro yang tenang dan kondusif. Ada hijab, sehingga ada batas antara peserta syuro ikhwan dan akhwat sehingga tidak dapat melihat pihak satu (ikhwan) dan pihak lain (akhwat)

  • Memastikan jumlah peserta syuro minimal. Adapun syuro minimal sekali dihadiri oleh satu ikhwan dan dua orang akhwat. Syuro tidak dapat digelar bila satu ikhwan dengan satu akhwat ataupun satu akhwat dua ikhwan. Inilah nilai-nilai Islam yang harus ditanam. Bahwasanya khalwat dapat mendatangkan maksiat. Ingat, yang diperintah tak hanya melakukan maksiat tapi perintah menjauhi.

  • Pemimpin syuro bertanya kepada peserta memastikan apakah syuro dapat dimulai

  • Pemimpin syuro memulai syuro dengan salam kemudian mengingatkan peserta untuk senantiasa bersyukur kepada Allah serta bersholawat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam serta beberapa kalimat yang dapat meningkatkan semangat dan fokus peserta.

  • Mengajak peserta memulai syuro secara formal dengan lafaz Basmallah

  • Pembacaan quran (Tilawah Quran) oleh salah satu peserta syuro. Terkadang boleh diikuti dengan artinya ataupun tadabbur mengenai ayat tersebut

  • Pemimpin syuro bertanya kepada seluruh peserta syuro apakah ada yang ingin memberikan taujih atau tausiah singkat demi meningkatkan kekuatan ruhiyah karena ‘pejuang-pejuang’ Islam digerakkan karena kekuatan ruhiyah yang membuncah dalam jiwa. Sehingga Taujih diharapkan sangat ada.

  • Setelah Taujih selesai dan diingatkan kembali point-pointnya, Pemimpin Syuro bertanya kepada seluruh peserta untuk mengusulkan agenda syuro yang akan dibahas hari ini. Perbedaan syuro dengan ‘rapat’ lain ialah di sisi adanya “Kesepakatan” di antara seluruh peserta syuro. Bila ada yang kurang sepakat maka akan diadakan proses saling memahami antar perbedaan pendapat itu dengan mengajukan penguatan, serta pandangan yang pada akhirnya diharapkan seluruh peserta sepandangan atau satu keputusan.

  • Setelah usulan-usulan agenda muncul dan disepakati bersama. Maka dimulailah berdasarkan urutan yang telah disepakati. Adapun contoh agenda-agenda syuro : Konsolidasi, pembahasan inti dan terakhir HYB (Hal yang Berkembang)…..

  • Laksanakan Syuro sesuai yang disepakati dan senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman

  • Syuro mengakhiri syuro ada baiknya mengulang kembali poin-poin penting dan hasil-hasil kesepakatan dalam syuro

  • Akhiri syuro dengan syukur kepada-Nya dan membaca doa kifaratul majelis "Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik"

Bersambung…………..

catatan :Bila ada yang terlewat atau kurang boleh ditambahi ya bagi yg juga sudah 'berpengalaman'

Islah, Seorang Manusia

Minggu, 19 Februari 2012

Kualitas Keikhlasan

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan." (QS al-Maidah :100)

Adapun sabab turunnya ayat ini menurut riwayat al-Wahidi dan al-Ashbahani yang bersumber dari Jabir, bahwa ketika Nabi shallahu ‘alaihi wa salam menerangkan haramnya arak,berdirilah seorang Badui dan berkata : “Saya pernah menjadi pedagang arak, dan saya menjadi kaya raya karenanya. Apakah kekayaanku ini bermanfaat, apabila saya gunakan untuk taat kepada Allah?” Nabi menjawab : “Sesungguhnya Allah tidak Menerima kecuali yang baik.” Maka turunlah ayat ini yang membenarkan ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam….

Tidak ada istilah “Robin Hood” dalam Islam. Segala sesuatu dinilai bukan dari kuantitas harta yang diberikan melainkan dari kualitas keikhlasan yang menempel padanya. Karena ketika keikhlasan itu sudah terkembang maka seiring dengan waktu, kuantitas pun akan bertambah. Kuantitas bertambah karena berkah….

Ikhlas merupakan kata kunci dalam ‘budaya kerja’ seorang muslim. Ikhlas berasal dari bahasa Arab yang berarti bersih, murni (tidak terkontaminasi), antonim dari kata syirik (kontaminasi). Ibarat ikatan kimia air (H20), dia menjadi murni karena tidak tercampur apapun, nah saat sudah tercampur sesuatu (misal Co2) maka dia komposisinya sudah berubah dan tidak murni lagi. So, ikhlas itu pure.

Dapat juga dilhat dari asbabun Nuzul ayat di atas, bahwasanya harta yang disedekahkan itu harus juga pure, bersih. Bersih darimana didapatkan. Itulah nilai keikhlasan. Dia berangkat dari kemurnian hati nuraninya. Ketika kita hanya berpatok pada kuantitas maka tak jarang ke-pure­-an niat berubah . Bisa saja muncul niat untuk carmuk (cari muka) atau riya ingin dilihat orang lain dsb.

Namun, yang harus diingat bahwasanya keikhlasan itu tak bisa dinilai oleh orang lain. Kuantitas yang besar juga dapat berarti kualitas keikhlasan yang besar. Sosok Abu Bakar dan Umar serta sahabat lain Radhiyallahu anhum dapat dijadikan model.

So, keikhlasan ialah suasana atau ungkapan tentang apa yang benar-benar keluar dari apa terdapat dalam hati nurani terdalam. Abu Bakar merupakan sosok yang nuraninya amat bersinar. Beliau ikhlas mengeluarkan seluruh harta demi dakwah Islam. Nurani cerah akan melahirkan hasil yang benar-benar menghujam ke bawah yang pada akhirnya buah yang dihasilkan pun membawa berkah. (14:24-25) Keikhlasan membawa keberkahan….

Keberkahan bagi setiap muslim merupakan suatu bonus tersendiri. Orang-orang kafir yang dermawan semacam Bill Gates juga banyak mengeluarkan hartanya demi kemaslahatan. Namun, ‘keberkahan’ atas hartanya tersebut hanya sebatas dibalas di dunia. Berbeda dengan muslim yang dermawan. Dunia dan akhirat insya Allah akan dibalas oleh-Nya. Ini disebabkan karena sekali lagi bahwa kualitas itu tetap jadi utama dari kuantitas. Kualitas keimanan atau aqidah yang benar lah yang membawa keberkahan bagi muslim.

Kualitas vs kuantitas

Kualitas bernilai lebih daripada kuantitas. Betapa banyak kaum yang kuantitasnya sedikit namun berkualitas berhasil mengalahkan kaum kualitas rendah(8 : 65-66). Karena itu titik fokus utama ialah bagaimana meningkatkan kualitas. Ketika perhatian utama berpindah dari kualitas kepada kuantitas maka kecelakaan amat rawan terjadi. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seseorang yang ikut dalam peperangan Hunain berkata : “Kita tidak akan kalah sekarang ini karena banyaknya jumlah pasukan kita.” Pada waktu itu jumlah pasukan kaum Mukminin 12.000 orang. Mendengar perkataan itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam merasa sesak dadanya. (Turunlah ayat al-Bara’ah : 25 berhubungan dengan malapetaka besar yang dialami kaum Mukminin dalam Perang Hunain karena merasa bangga dengan banyaknya pasukan mereka)

So, misalnya, kuantitas pengurus, panitia yang berjumlah besar bukanlah kuncinya namun bagaimana kualitas ilmu,keikhlasan, ikatan ukhuwah, kerjasama, serta kreatifitasnya. Banyaknya manusia di divisi, departemen, seksi tak laik dijadikan ajang ber-‘husnusdzhon’ diri. Ah, kan masih ada dia….

Ketajaman nurani akan melahirkan keikhlasan sejati. Qolbu yang tergugah akan memaksa diri untuk bersemangat dalam mengerjakannya. Hati yang cerah akan hasilkan pemahaman yang terarah. Tak soal berapa banyak yang akan datang dan ikut. Atau berapa persen kuantitas, persentase yang berhasil diraih. Namun bagaimana amanah, kepercayaan yang telah diberikan dapat maksimal dalam pengerjaan. Ketika amanah itu telah dilaksanakan dengan kesadaran tidak paksaan. Ketika kepercayaan sudah dilakukan sukarela niscaya kuantitas akan datang dengan sendirinya…….

Karena keikhlasan membawa keberkahan…..

Sele-selenya Si Islah

#Islah, Seorang Manusia

Wallahua 'lam