Selasa, 05 Juli 2011

Memanfaatkan Ke Pemudaan

Oleh : Muhammad Djamir Panggabean SH

Dipublikasikan : MEDAN, JUMAT 5 Januari 1979

Masa kepemudaan itu dilintasi manusia menjelang tiba masa tuanya. Terkecuali bila manusia itu telah meninggalkan dunia ini di masa bayi atau masa kecilnya. Demikianlah salah satu sunnah Tuhan dalam kehidupan ini. Justru itu Nabi Besar Muhammad SAW memberikan fatwa kepada manusia agar memanfaatkan masa kepemudaan itu dengan sebaik-baiknya.”Manfaatkanlah masa pemudamu sebelum datang masa kelemahanmu,” demikian kata beliau. Pada umumnya semua manusia, apakah berkulit putih, hitam, kuning atau sawo mateng, sangat berhati-hati memelihara masa kepemudaan ini. Apabila masa itu dibiarkan berlalu lalang saja maka kegelapanlah yang akan menonjol di belakang hari. Sebagai menating minyak penuh, seharusnya demikianlah pemeliharaan yang dilakukan terhadap pemuda ini.

Kalau kita katakan di sini harapan masa depan, maka yang dimaksud dalam pengertian yang baik. Kita harapkan perbuatan2 baik yang akan dibuahkan oleh tangan para pemuda ini kelak. Baik dalam ucapan, baik dalam berbuat dan baik pula bekas yang ditinggalkannya. Segala kebaikan ini hanya baru dapat terlaksana apabila dilandaskan kepada budi pekerti yang baik pula. Budi pekerti yang baik inilah yang dinamakan hukum agama dengan “akhlak”. Istilah akhlak ini berkaitan dengan istilah “Khalik”. Adapun yang dinamakan khalik itu ialah Allah Subhanahu wa Taala. Kesimpulannya ialah budi pekerti itu baru dinamakan baik apabila dia telah direstui oleh hukum agama. Hukum yang diatur dan diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Masa depan yang baik itu akan dapat dibayangkan sekarang apabila para pemudanya telah memiliki akhlak ini. Akhlak baik itu akan membedakan halal dan haram. Tahu memisahkan antara buruk dan baik. Tidak berlaku “tangguk rapat” seperti kata orang pasaran artinya “hantam kromo” saja. Kalau dari semula sudah dibiasakan berlaku hantam kromo, lama2 menjadi adat istiadat, berkembang menjadi adat, menjadi tradisi, kesudahannya tanpa disadari jatuh dalam perangkap “komunis”. Karena merekalah yang mempunyai filasafat “asal sampai kepada tujuan boleh berbuat apa saja”. Akhlak yang baik tidak mengizinkan kelakuan demikian.

Pernahkah terdapat dalam sejarah, yang masa kepemudaan itu diarahkan kepada yang TIDAK BAIK ? Kita jawab “pernah”. Ketika bangsa Quraisy dahulu melakukan permusyawaratan untuk membunuh Nabi Muhammad, para pemudalah yang dihasut mereka untuk melakukannya. Mereka lakukan fitnah, infiltrasi kepada para pemuda Quraisy agar bersedia melakukan pembunuhan terhadap Muhammad. “Wahai para pemuda”, kata Abu Lahab,”adat istiadat nenek moyang kita sedang terancam. Seorang yang bernama Muhammad sedang menyebarkan ajaran yang akan merongrong sendi2 wasiat nenek moyang”. Mereka tonjol2kan rasa kebencian. Api yang kecil disiram dengan minyak agar tambah bergejolak. Dan memanglah, para pemuda mengadakan pengepungan ke rumah Muhammad dengan rencana pembunuhan. Syukurlah, tipu daya mereka itu telah diketahui sebelumnya, sehingga rencana mereka gagal sama sekali.

Kalaulah sekiranya ada di antara suku Quraisy itu yang mengemukakan ajaran Muhammad itu untuk dipertimbangkan para pemuda mungkin tidak akan terjadi rencana pembunuhan. Di antara para pemuda tentu ada yang berfikiran cerdas, yang tahu menimbang dan meneraca, membedakan buruk dan baik, rugi dan laba. Sudah pasti akan ada di antara pemuda yang akan berpendapat, buat apa manusia Quraisy diajak menyembah berhala, melakukan judi, meminum khamar, memperdagangkan kaum wanita. Membodoh2i manusia memper-tuhankan hawa nafsu. Tetapi kaum Quraisy tidak mau berbuat ini. Mereka takut. Apabila kepada para pemuda diberi kesempatan untuk mempertimbangkan ajaran Muhammad, maka besar kemungkinan kaum Quraisy akan ditinggalkan. Justru itu yang paling utama untuk mengikat para pemuda Quraisy ialah dihasut, difitnah, dan diinfiltrir bahwa ajaran Muhammad akan merongrong kesucian adat istiadat nenek moyang. Syukurlah rencana jahat itu tidak diizinkan oleh Allah S.W.T.

Agama Islam menjadikan masa kepemudaan itu sebagai salah satu faktor penting dalam dunia pendidikan. Bahkan sejak dari masa kecilnya. Sejak anak masih berumur 7 tahun harus sudah dilatih menegakkan shalat. Boleh dilakukan pemukulan, apabila telah berumur 10 tahun tetapi tidak bershalat. Tahu menegakkan shalat sebagai salah satu media untuk membedakan buruk dan baik. Salah satu alat untuk tahu menegakkan ketertiban.

Karena shalat itu harus ditegakkan dengan tertib. Tidak syah shalat tanpa adanya unsur tertib. Kalau sejak dari kecil sudah diajar menghayati norma ketertiban, bukankah dia kelak akan membuahkan kehidupan yang tertib dan teratur pula? Demikianlah menurut logikanya. Terjadinya kekacauan dan kegumarapusan dalam kehidupan ini adalah karena manusia tidak menghormati unsur ketertiban lagi. Mau berlaku seenaknya saja. Mau berlaku anggar saja. Pada hal dalam kehidupan dunia ini tidak ada yang serba di atas. Di atas yang kuat masih ada yang lebih kuat. Di atas yang cantik masih ada yang lebih cantik. Demikianlah seterusnya. Yang berhak memakai ke-Maha2-an hanya Allah SWT. Jangan pula ada manusia yang hendak mencoba2nya. Meniru2 hendak mengatasi ke-Maha-an Tuhan itu.

Shalat adalah tiangnya agama Islam. Pentingnya shalat tidaklah sebagai pendapat orang yang berpengetahuan picik. Menilai shalat ini kepada gerakan lahiriyah saja, sehingga tidak merasa berat meninggalkan shalat. Tidak merasa MALU kepada diri sendiri bila tidak mengerjakan shalat. Sampai hari bersembunyi di dalam kamarnya sendiri sedang orang telah beramai2 menuju mesjid menunaikan fardhu shalat. Dr. H.Abd.Karim Amrullah ketika melihat anaknya baru kembali dari tourne melakukan dakwah ke beberapa tempat di pulau Jawa, maka mula pertama yang ditanyanya: “Hai Malik, apakah engkau telah shalat?”. Padahal anaknya pada waktu itu sudah menjadi HAMKA. Secara -sepintas lalu, tidak mungkin Bapak Hamka melalaikan shalat sedangkan dia masa itu sudah populer sebagai seorang muballigh. Apakah kesan yang diperdapat dari sini? Bahwa menegakkan shalat itu adalah sesuatu yang sangat penting dalam Islam. Jadi, kalau ada seseorang oknum Islam yang menganggap enteng hukum menegakkan shalat, siapapun sudah dapat menilai masuk katagori mana dianya. Demikian pula yang tidak ambil acuh mendidikkan ajaran shalat kepada anak2 dan penghuni rumah tangganya sendiri.

Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan risalahnya dibantu oleh 40 orang pemuda2 Islam, yang di dalam al-Qur’an digelarkan dengan “as-sabiqunal awwalun”, yaitu pemuda2 yang telah berjasa menegakkan kalimah Tuhan mengajak manusia kepada berfikir, berencana dan berbuat kebaikan kepada manusia. Menegakkan tauhid. Melarang manusia bertuhan kepada berhala, kepada hawa nafsu.

Siapa yang tidak kenal akan pemuda Zubair bin Awwam. Kalau para Nabi yang dahulu ada mempunyai kaum Hawariyun, maka Zubair ini adalah Hawari dari Muhammad SAW. Terkenal sebagai seorang pahlawan dan seorang hartawan yang dermawan. Ketika dia masih berumur 12 tahun memeluk agama Islam. Orangtuanya telah meninggal dan dia dipelihara oleh Pakciknya. Alangkah marahnya si Pakcik ketika mendengar Zubair telah memeluk agama Islam. Dia digantung dengan seutas tali. Di bawahnya dinyalakan api. Asap mengepul2 ke muka Zubair. Dia dipaksa melepaskan kepercayaan yang diajarkan Muhammad. Tetapi dia tidak mau. Dia yakin bahwa ajaran Islam inilah yang hak. Ajaran Quraisy bathil, hanya menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Segala penderitaan dialaminya. Bukan saja Pakciknya memberikan penganiayaan padanya, tetapi semua anggota keluarganya, melepaskan kemarahan hati padanya. Dia tetap berpegang kepada yang hak, sehingga akhirnya tercatat sebagai seorang pemuda yang tabah,tawakkal, beriman, hartawan dan dermawan.

Mengingat pentingnya peranan pemuda di masa depan, makanya manusia tidak mau bersemena2 memberikan pendidikan seenaknya saja kepada para pemudanya. Apabila dari semula salah memberikan arah, maka hari esok akan menggambarkan penyesalan belaka. Sesal di belakang hari adaah penyakit yang sulit mengobatinya. Justru itu janganlah nasi itu dibiarkan menjadi bubur karena kelalaian sendiri.


Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar